Entri Populer

Selasa, 20 Maret 2012

Pilkada DKI Dan Kemunduran Demokrasi Indonesia




Wajar jika DKI Jakarta menjadi barometer berbagai kemajuan di republic ini. Wajar juga kiranya jika seluruh partai-partai nasional menjadikan Pilkada DKI Jakarta sebagai arena uji tanding sebelum pertandingan sebenarnya di 2014 kelak. Pentingnya posisi DKI Jakarta dalam peta perpolitikan tanah air telah membuat partai-partai nasional menjadi “ gelap mata” dengan menjadikan kemenangan Pilkada seolah-olah merupakan ajang pertaruhan gengsi dan martabat partai. Hal ini mengakibatkan partai tidak lagi hanya mengindahkan tugas pokok dan fungsinya sebagai guru politik yang baik bagi para kader, simpatisan maupun rakyat jelata.

Pencalonan Alex Nurdin oleh Golkar menunjukkan kalau partai tidak memberikan pendidikan politik yang baik untuk rakyat. Mengingat masa bakti Alex sebagai Gubernur Sumatera Selatan masih beberapa tahun lagi, sedangkan jabatan yang kini ia idam-idamkan secara struktural adalah sejajar. Bukankan dengan meninggalkan tugas sebagai Gubernur Sumsel artinya Alex secara nyata telah berkhianat pada amanat rakyat. Menilik dari pernyataan Alex pada wawancara dengan Harian Kompas, kalau alasan utamanya memperebutkan DKI 1 adalah karena semuanya sudah berjalan baik dan tidak ada lagi yg bisa ia perbuat di Sumatera Selatan, jelas-jelas sebuah bentuk arogansi dan inkonsistensi. Arogansi karena meski diakui banyak pihak sudah cukup berhasil namun apakah semua program yang ia kampanyekan telah berjalan baik di Sumsel sana? Kalau pun sudah, bukankah ia harusnya mengawal sampai semuanya benar-benar mapan dan telah menjadi sistem yang berkelanjutan? Inkonsistensi sebab jika ia gagal di Pilkada  DKI pastilah Alex akan kembali ke tampuk kekuasaannya bahkan sangat mungkin ia akan maju pada Pilkada Sumsel berikutnya, padahal ia sempat mengaku “ sudah terlalu banyak berbuat sehingga bingung mau berbuat apalagi bagi warga wong kito galoe”

Secara konstitusi memang tidak salah dan pilihan maju sebagai calon merupakan hak politik yang melekat sebagai Warga Negara Indonesia, namun secara etika politik benar-benar tidak bisa diterima. Tindakan tersebut sama saja menunjukkan kalau jabatan politik di Indonesia lebih ditujukan untuk meningkatkan status sosial elit politik maupun Parpol itu sendiri. Andai saya rakyat Sumsel saya juga pasti akan marah ditinggal pergi begitu saja. Habis manis Sumsel ditinggal! Diimpornya seorang alex jelas-jelaskan menunjukkan Golkar gagal member pemerataan pendidikan dan pembinaan para kadernya bahkan di provinsi sepenting DKI! Padahal pendidikan politik adalah salah satu fungsi utama partai politik menurut ilmu ketata negaraan.
Demi persatuan dan kesatuan bangsa, sudah selayaknya peraturan pencalonan dalam Pilkada ditinjau ulang, terutama pasal-pasal mengenai syarat pencalonan. Jikalau yang boleh memilih adalah warga yang memiliki KTP daerah setempat lantas mengapa calonnya boleh berasal dari domisili KTP yang berbeda? Bukankah hal tersebut bisa menimbulkan kesempatan bagi tumbuh suburnya isu “ putra daerah” sebagai kampanye negative dari lawan-lawan politik yang berstatus penduduk asli? Isu tersebut bisa menjadi cikal bakal kehancuran ke bhinekaan bangsa.  Tentu isu murahan seperti ini tidak bisa terlalu dikembangkan andai setidaknya para calon kepala daerah berKTP daerah pemilihannya.

Secara moral pandangan politik tentang syarat calon harus berKTP tempat pemilihan bisa dipertanggung jawabkan. Sederhananya jika memiliki KTP setempat sudah pastilah setidaknya memiliki properti yang berada di daerah tersebut. Dan itu artinya sang calon sebelum menang pun sudah berkontribusi bagi pembangunan daerah tersebut dengan setidaknya membayar PBB. Bukankah untuk menjadi pejabat kepala daerah sudah selayaknya harus memiliki kecintaan pada daerah yang ia pimpin? Dan serendah-rendahnya bukti cinta itu yah dari kontribusinya mensukseskan pembangunan melalui pembayaran PBB (seperti bunyi slogan-slogan yang disebar dinas pendapatan). Konstituen pun lebih mudah dalam menelusuri rekam jejak kandidat favoritnya dengan asumsi kedekatan jarak/kelokalan domisili. Dan yang paling penting setidaknya para kandidat memahami atau minimal merasakan hal-hal yang harus menjadi fokus pembangunan daerah tersebut ketika mereka menang.
PKS sendiri setali tiga uang buruknya dengan Golkar. Pencalonan Hidayat Nurwahid memang secara matematis adalah pilihan cerdas, mengingat popularitasnya di Jakarta sendiri. Namun dilihat dari masa lalu beliau sebagai Ketua MPR ini jelas merusak estetika tata Negara kita. Bukankah jabatan Ketua MPR sejatinya lebih tinggi dari hanya sekedar gubernur DKI? Kalaupun HNW masih punya hasrat politik, rakyat DKI terlalu sedikit untuk ia pimpin, harusnya beliau maju ke Kursi RI 1 atau paling jauh ke kursi RI 2. Sebagai tokoh politik Islam bukankah harusnya sangat paham akan hadis Rasulullah SAW “ bahwa orang yang celaka adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dan orang yang beruntung adalah orang yang hari esok lebih baik dari hari ini” Sekali lagi ditegaskan “ SECARA ESTETIKA TATA NEGARA,JABATAN KETUA MPR LEBIH TINGGI DARI SEKEDAR GUBERNUR DKI”

Sebagai pengamat politik dan juga penulis artikel ini, wajarlah kiranya kalau saya mencap Pilkada DKI Jakarta adalah sebuah kemunduran demokrasi Indonesia” Sungguh pendapat Yusuf Kalla yang mengatakan salah satu alasannya maju jadi Cawapres dahulu adalah karena beliau butuh peningkatan setelah berkali-kali jadi menteri. Kata beliau yang paling dikenang oelh penulis adalah “ saya sudah berkali-kali jadi menteri, jadi kalo tidak ada peningkatan dan Cuma jadi menteri lagi lebih baik saya pulang kampung dan membangun tanak kelahiran” Sungguh sebuah ungkapan tegas dari politikus professional. Politikus yang punya wibawa dan tidak menggadaikan harga diri serta wibawa demi memuaskan kecanduan akan kekuasaan.

Rabu, 29 Februari 2012

REFORMASI BAGI POLISI


Reformasi...
Adalah hari-hari...
Dimana para polisi berlomba-lomba masuk televisi
Dari yg ahli sulap sampai jago menyanyi
                                 
                   Bahkan banyak yg ikut kontes indonesia idol tanpa sungkan
                   Ada juga yg cuma bermodal ketampanan

Wajar jika preman merajalela
Kejahatan terjadi dimana-mana
Semua karena polisi kita mulai lupa

                      Tugas mereka mengayomi dan melindungi
                      BUKAN JADI PARA PENGHIBUR DI TELEVISI!!

Selasa, 18 Oktober 2011

Puisi Pegawai Negeri



Berhasil dalam tugas adalah tradisi
Kerja berat sudah pasti
Loyalitas terhadap pimpinan Harga Mati
Gagal dalam tugas dimutasi
Pulang Terlambat dimarahi istri/suami
Hidup kaya dicurigai
Hidup Miskin salah sendiri
Mau penempatan bagus mesti lobi sana sini
Potongan BPD,BRI,KORPRI dan koperasi tiap bulan sudah menanti
Kenaikan gaji tidak memadai
Sementara masuk surga juga belum pasti
Nasibmulah wahai pegawai negeri

Rabu, 05 Oktober 2011

Curahan hati calon pengantin 1

Kuumumkan  cintaku pada dunia
Tidak untuk berbangga
Tak pula karena telah tergila-gila
Pada pesonamu hai jelita
Itu sekedar caraku meminta
Doa restu dari manusia

                        Mudah-mudahan dengan dorongan restu bumi
                        Meraih restu langit bukanlah mimpi

Sabarkan cibiran
Diamkan yang menanyakan
Mengapa cinta ini terlalu cepat
Tokh yang lambat belum tentu selamat
           
            Ketidak sempurnaan dinda
            Itulah yang membuat kanda cinta
            Sebab kanda juga jauh dari sempurna
            Sebab kanda dan dinda masih tergolong bangsa manusia
                 

Jumat, 24 Juni 2011

MESJID DAKWAH YG PENUH BERKAH


            Jangan mengaku muslim alumni USU, jika tidak pernah singgah apalagi sekedar mendengar nama Mesjid Dakwah. Mesjid yang kini masih dalam proses pemugaran agar lebih megah. Di Universitas Sumatera Utara, Mesjid Dakwah menempati peran sebagai jantung gerakan dakwah Islamiyah. Peran ini bisa berjalan dengan baik, seiring dengan kebijakan pengurus badan kenazirannya. Mereka dengan senang hati membuka pintu lebar-lebar, bagi setiap kegiatan dakwah bagi para jemaah.
Peluang ini dimanfaatkan betul oleh berbagai organisasi mahasiswa yang berideologi keislaman. Berbagai acara mereka bisa gelar dengan leluasa, tanpa harus melalui prosedur pengurusan izin yang berbelit-belit. Setiap Hari Jum’at, mesjid selalu penuh sesak oleh jemaah, yang mayoritas berasal dari civitas akademika USU. Pemandangan jemaah yang harus sholat di pelataran parkir, terutama di Jum’at Bulan Ramadhan, menginspirasi badan keanziran untuk melakukan pemugaran. Sayangnya, meski telah direncanakan lebih dari lima tahun yang lalu, proyek tersebut belum juga mampu dirampungkan. Terkadang kenyataan ini membuatku malu. Malu yang bertumpu pada pertanyaan, apa tidak ada muslim alumni USU yang  berhasil jadi orang kaya? Apa tidak ada lagi yang alumni muslim, yang peduli pada perkembangan keislaman di almamater USUnya?
Di mesjid inilah untuk pertama kalinya aku paham akan keberagaman Islam. Meski terlahir dari keluarga yang turun temurun memeluk Islam sebagai keyakinan, aku baru benar-benar “ masuk “ Islam ketika duduk di bangku SMU. Sebelumnya, ritual-ritual ibadah bagiku hanya merupakan rutinitas wajib. Dulunya sholat kulakukan demi memenuhi perintah orang tua dan guru agama. Puasaku menjadi penuh karena di rumah tidak tersedia makanan apapun, di siang hari Bulan Ramadhan. Baru ketika duduk di bangku SMU, semua ibadah kulakukan benar-benar karena bisikan keimanan. Dari SD sampai SMU yang kutahu, bahwa menjadi orang sholeh adalah dengan taat ibadah dan menjauhi dosa saja. Di mesjid ini, pandangan tradisionalku mulai berubah sedikit demi sedikit. Hal itu disebabkan di Mesjid Dakwah terdapat kegiatan kajian keilmuan rutin dan dadakan, dari berbagai pemahaman keislaman.
Untuk kegiatan kajian rutin, masing-masing paham bahkan punya “ pojok tersendiri”. Dikatakan pojok karena meski tidak terdapat plang / rambu penunjuk tertulis, namun jemaah tetap mesjid paham, di waktu-waktu tertentu tempat yang dimaksud akan dipakai sebagai lokasi belajar “ kelompok tertentu ”. Semasa diriku masih berhak menyimpan KTM USU, sedikitnya ada lima pojok di mesjid tersebut. Sebut saja pojok pertama, letaknya dekat mimbar khutbah imam. Lokasi ini merupakan hak ekslusif pengajian, yang disponsori badan kenaziran. Pojok kedua letaknya dekat dengan pojok pertama, namun maju sampai tiang pondasi pertama dari depan. Ini tempat para pengikut jemaah tabligh atau yang sering disebut orang Medan sebagai Jemaah Jalan Gajah.
Maju satu tiang lagi, tepat di depan pintu masuk belakang mesjid dan lokasi sholat kaum hawa, kita  sebut saja pojok ketiga. Ini lokasi pengajian berpaham salafus shalih atau yang sering menyebut diri sendiri sebagai pengajian salafi. Pengajian ini menurut pandangan awamku, memiliki kemiripan teramat sangat dengan aliran wahabi, yang jadi mazhab resmi di Kerajaan Saudi. Pojok ke empat, berada dekat dengan pintu samping menuju kamar mandi. Ini                     tempat anak-anak muda yang menjunjung tinggi paham tarbiyah. Mereka umumnya punya kedekatan dengan sebuah partai politik, yang mengaku sebagai partai dakwah. Pojok yang terakhir, adalah tempat aku dan teman-temanku sering berdiskusi atau sekedar bersenda gurau, ketika menunggu tibanya waktu rapat maupun sholat. Pojok kelima adalah pojoknya UKMI Ad-Dakwah, LDK USU.
Aku yang memang suka menuntut ilmu agama, tidak ingin                       dikotak-kotakkan begitu saja. Kuputuskan untuk mengikuti dan mempelajari semua “majelis” keilmuan yang dilaksanakan oleh semua pojok tersebut, jika sedang mampir dan punya waktu senggang tentunya. Meski akhirnya aku lebih merasa nyaman menyandang status “kader” pojok kelima. Mulai dari Mesjid Dakwah inilah aku punya keyakinan baru, yang melekat hingga kini. Keyakinan yang berlandaskan pada kenyataan, bahwa menjadi orang sholeh, bukan cuma menjunjung tinggi nilai-nilai agama serta berdisiplin diri disoal-soal ibadah belaka. Lebih dari itu, kita dituntut untuk menemukan nilai-nilai kebenaran. Yang mana nilai-nilai tersebut, sangat mungkin sudah terserak ke berbagai paham dan aliran. Buktinya, semua pojok yang kuceritakan tadi, punya “penafsiran” tersendiri mengenai berbagai macam ayat-ayat al qur’an dan hadist-hadist nabi. Agar otakku tidak “eror” akibat menanggung bingung, kuanggap saja itu semua sebagai bagian dari pemahaman Islam warna-warni. Pemahaman baru yang memperkaya pemahaman agamaku, yang terlebih dahulu dicekoki “doktrinasi dogma-dogma” Islam versi Departemen Agama. Yang terus menerus disuntikkan belasan tahun lamanya, lewat buku-buku dan guru-guru di sekolah.
Selain menjadi pusat ibadah dan keilmuan, Mesjid Dakwah punya beberapa peranan lain. Letaknya yang strategis dan dikenal hampir di seluruh Kecamatan Medan Baru dan USU, menjadikannya tempat ideal bagi titik perjumpaan, orang-orang yang telah lama tidak atau baru saja hendak  bertemu. Lokasi peningkatan gizi bagi para jemaahnya yang mayoritas mahasiswa, ketika Ramadhan tiba. Sudah jadi adat kenaziran untuk menjamin ketersediaan buka puasa bersama gratisan, bagi siapa saja selama sebulan penuh. Ada hal unik berkenaan dengan kebiasaan baik ini. Sering kali sesama mahasiswa muslim, termasuk diriku, saling bertukar informasi. Informasi yang dipertukarkan adalah                “ jenis menu” di berbagai tempat yang menyediakan lokasi buka puasa gratisan. Di mana lokasi dengan menu terlezat, maka kesanalah kami   berduyun-duyun.           Di USU sendiri, bukan cuma Mesjid Dakwah yang mengadakan buka puasa bersama. Mushalla-mushalla kecil yang hampir ada di setiap fakultas juga tidak ketinggalan, meski tidak rutin. Bukan cuma menu berbuka yang jadi perhatian, ada “makan berat” atau cuma snack, menjadi tolak ukur popularitas tempat berbuka tersebut. Makan berat yang dimaksud di sini tentu saja adalah  nasi dan lauk-pauknya. Trend mencari tempat berbuka paling nikmat ( apa ada yang lebih enak dari makanan gratisan?) menjadi kenangan tersendiri bagi kami, para pencari bukaan gratisan. Kenangan yang turut memelihara perasaan saling merindukan satu sama lain, di antara kami. Kenangan yang kelucuan-kelucuan di dalamnya, tetap bisa kami tertawakan kala bersua di kesempatan terkini.
Mesjid Dakwah juga merupakan lokasi tidur siang paling nyaman. Dengan mudah jemaah terbuai oleh banyaknya kipas angin, rerimbunan pohon di sekeliling, ditambah aura ketenangan khas mesjid penuh berkah. Sehabis kuliah atau menunggu jeda kuliah selanjutnya, banyak mahasiswa yang menumpang tidur di Dakwah.  Dulu sehabis Jum’atan, di sekeliling mesjid juga merupakan tempat wisata kuliner murah meriah favoritku. Namun faktor kebersihan dan semakin membludaknya kendaraan jemaah yang butuh lahan parkir, para pedagang pun mau tidak mau harus digusur. Mahasiswa juga banyak memanfaatkan banyaknya stop kontak listrik di mesjid, untuk mengisi baterai hp, laptop dan gadget lainnya.  Peran terakhir adalah yang paling tidak tepat sebenarnya.
Pernah suatu ketika temanku mendesak salah seorang teman lain yang punya kendaraan, untuk mengantarnya seketika itu juga ke Mesjid Dakwah. Kami pada waktu itu heran, sebab waktu sholat Maghrib masih jauh. Tanpa diduga akhirnya sang teman mengaku, kalau tujuannya ke sana bukan untuk beribadah. Si kawan rupanya ingin membuang hajat besar di WC mesjid. Sebagai mahasiswa ilmu sosial yang dilatih untuk peka terhadap lingkungan sosialnya, aku protes keras. Kukatakan dengan tegas “ dunia memang sudah mau kiamat. Mesjid pun tak lagi tempat beribadah tapi sudah berubah menjadi WC umum” Karena sudah terujung, si kawan tadi tidak ambil peduli. Bersama teman kami yang satunya lagi, ia pun pergi menaiki sepeda motor menuju ke Mesjid Dakwah.
Menemukan fasilitas WC umum memadai di Kota Medan, termasuk di USU, sama sulitnya seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Masyarakat kota ini dikenal punya budaya acuh tak acuh berslogan “ ini Medan bung “ Membuat istilah “jagalah kebersihan” lebih pada slogan, bukan kebiasaan.                WC sering kali menjadi lubang sampah atau ditinggalkan tanpa dibersihkan, oleh pengguna terakhir. Kejorokan sering kali dimaksimalkan oleh pembiaran pihak terkait, yang membiarkan kerusakan fasilitas. Penyebab kerusakan selain karena umur yang sudah uzur, juga karena tingkah polah oknum-oknum tidak bertanggung jawab. WC yang mendekati standarisasi sanitasi sehat, biasanya hanya diperuntukkan untuk kaum birokrat kampus. Tentu tidak etis jika mahasiswa biasa turut menikmati fasilitas untuk kaum elit tersebut. Dan ternyata bukan cuma kawanku tadi, yang rajin menikmati fasilitas kamar mandi umum mesjid. Beberapa tukang becak juga rajin mandi dan mencuci di sana. Sehabis berolah raga, para mahasiswa juga tidak jarang yang membersihkan diri di kamar mandi umum tersebut.
Sebelum Kejaksaan Agung mencari muka dengan mempopulerkan kantin kejujuran, perilaku belanja ambil sendiri, hitung sendiri, bayar sendiri telah membudaya di USU. Salah satu tempat transaksi yang didasari prinsip saling percaya, tanpa pertemuan penjual dan pembeli ini adalah di Mesjid Dakwah. Tepatnya di pelataran dekat kamar mandi. Pelopor-pelopornya adalah Bang Edy Siregar (imam tetap Mesjid Dakwah), Bang Tengku (tukang becak yang juga berprofesi sebagai petugas kebersihan mesjid) serta beberapa aktivis penggiat ekonomi syariah lainnya. Jualan makanan dan minuman berprinsip mirip kantin kejujuran ini, menjadi magnet bagi para mahasiswa yang hobi berpuasa sunnah untuk berbuka di Dakwah.
Perkembangan terakhir cukup membanggakan. Mesjid kebanggaan USU tersebut kini telah dilengkapi fasilitas wifi. Dampaknya terlihat sangat positif, terjadi peningkatan signifikan jumlah jemaah. Dengan perkembangan ini, Mesjid Dakwah benar-benar menunjukkan upaya keras, guna mengembalikan citra mesjid seperti zaman Rasulullah. Di mana mesjid tidak dikultuskan sebagai Rumah Tuhan belaka, namun juga pusat perkembangan ilmu pengetahuan. Politik glasnost dan perestroika badan kenaziran, bukan cuma menjadikan Mesjid Dakwah sebagai jantung Dakwah Islamiyahnya Kampus USU, namun juga rahmatan lil alamin. Di Mesjid inilah aku belajar memaknai cinta Ilahi. Sebuah cinta yang dibina atas dasar kesamaan iman. Karena di mesjid inilah aku bersua dan semakin dekat dengan teman-teman yang kuharap merindukanku, ketika mereka telah tiba di JannahNYA. Salah satu mesjid favoritku kala mengucap ijab kabul kelak. Dan yang paling kuyakini sampai detik ini, pasti bukan cuma aku yang mencintai dan merindukan Mesjid Dakwah USU!
Gadget : peralatan elektronik yang mudah dibawa-bawa. Terujung :sesak /kebelet. glasnost dan perestroika : politik keterbukaan di akhir era Uni Soviet.                         LDK: Lembaga Dakwah Kampus. Trend : kebiasaan yang diikuti banyak orang. Tarbiyah : paham keislaman yang dipopulerkan gerakan Ikhawanul Muslimin di Mesir. Wifi : Fasilitas untuk mengakses internet tanpa perantara kabel.
BIO DATA PENULIS
Nama lengkap              : M.Arif.Bsp.Lubis. S.Sos.
Tempat/tanggal lahir      : Rambung Sialang / 10 Mei 1983
Alamat                         : Jl.Brigjen Katamso.Gang Darul Aman.
                                      Medan-Sumatera Utara.
                                      Kode pos 20158
Pekerjaan                     : Satuan Polisi Pamong Praja, Kabupaten Serdang Bedagei
Jenis kelamin                : Laki-laki
Agama                         : Islam
Email                            : arif_toteles@yahoo.com
                                      sigantengdarigoahiro@gmail.com
Blog                             : www.sigantengdarigoahiro.blogspot.com

Kamis, 23 Juni 2011

The Orange ( 2 )

Kenapa menyangka
Pesona raga dinda
Menimbulkan noda dosa di hati kanda

             Dinda pasti tiada berani menyangka..
             Jika dinda lihat kemajuan iman kanda
             Dinda membuat kanda semakin berambisi menuju surga


Asumsi kanda
Jika bidadari dunia saja ada semempesona dinda
Pastilah bidadari surga teramat  mempesona...


Rabu, 22 Juni 2011